Pemuda Muhammadiyah Ranting Sumberagung - Brondong - Lamongan
Showing posts with label Aqidah. Show all posts
Showing posts with label Aqidah. Show all posts

24 February 2013

Allah Bersemayam di Atas ‘Arsy

Penanya :
Sujarwo, Batang

Pertanyaan :

Ada seorang muballigh dari luar Batang menjelaskan bahwa Allah tidak berada di atas, berdasarkan surat Qaf ayat 16. Kami masih ragu-ragu, sebab selama ini kami pahami bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy. Apa pemahaman kami ini yang keliru? Mohon penjelasannya!


Jawaban :

DOA BUATAN SENDIRI, ROH PESUGIHAN, SHALAT DHUHA, LAFADZ TAKBIR

BERDOA DENGAN DOA BUATAN SENDIRI DALAM SHALAT,
ROH ANAK YANG DIKORBANKAN UNTUK PESUGIHAN,
HUKUM SHALAT DHUHA SECARA BERJAMAAH,
DAN LAFADZ TAKBIR HARI RAYA

Penanya:
Wakidjo Az./ Agen SM No. 025, NBM. 494 220, Lampung
(disidangkan pada hari Jum'at, 7 Rabiul Akhir 1427 H / 5 Mei 2006 M)

Pertanyaan:

Pertanyaan saudara yang panjang dapat kami ringkas sebagai berikut:
  1. Bolehkah kita berdoa dengan doa buatan sendiri di dalam shalat?
  2. Kemanakah roh anak yang mati akibat dijadikan sebagai syarat mencari pesugihan?
  3. Bolehkah shalat dhuha dilaksanakan dengan berjamaah? Kalau boleh, bagaimanakah caranya? Dan apakah fadhilah shalat dhuha?
  4. Bagaimanakah lafaz takbir Hari Raya?

Jawaban:

23 February 2013

SYIRKUL ASBAB

Pertanyaan Dari:
Sujoko, NBM. 613966
Cabang Muhammadiyah Ampel Boyolali Jawa Tengah
(disidangkan pada Jum’at, 22 Shaffar 1429 H / 29 Februari 2008 M)


Pertanyaan:

Assalamu ’alaikum Wr. Wb.
Saya membaca tulisan ustadz H. Muammal Hamidy, Lc. dari Bangil Jawa Timur, dalam lembaran dakwah Uswatun Hasanah No. 976 tanggal 21 Jumadal Akhir 1428 H / 6 Juli 2007 M, terbitan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jakarta yang menguraikan tentang syirik itu ada 6 (enam) macam. Satu di antaranya adalah Syirkul Asbab, yaitu menyandarkan sesuatu kepada sebab, bukan kepada kekuasaan Allah SWT.

Dalam keseharian saya selalu mengurai permasalahan itu dari sebab akibat. Misalnya orang kecelakaan, saya telusur misalnya karena malam sebelumnya dia tidak tidur dan habis bekerja. Dari kejadian ini saya mengambil kesimpulan bahwa yang terkena musibah kecelakaan ini, karena kantuk dan lelah memaksakan diri mengendarai kendaraan.

Karena saya akan mengambil ibrah (pelajaran) dari sebab akibat kecelakaan, agar dalam bertindak selalu melihat kondisi badan. Di samping itu Islam juga mengakui adanya hukum sebab akibat. Oleh karena itu saya mohon penjelasan bagaimana sikap saya dalam menghadapi uraian dari ustadz H. Muammal Hamidy, Lc. tersebut, agar tidak terperosok ke dalam syirkul asbab tersebut, serta mohon dijelaskan pengertian dan macam-macamnya dengan rinci.

Wassalamu ’alaikum Wr. Wb.

Jawaban:

21 February 2013

HUKUM MEMAKAI JIMAT

Pertanyaan dari :
Hadi Suroso, hadisbaya@gmail.com
(disidangkan pada Jum’at, 14 Rabiul Akhir 1430 H / 10 April 2009)

Pertanyaan:

Assalamu alaikum. Wr. Wb.
Seorang teman pernah mengajak saya untuk ikut pengajian di salah satu pondok pesantren di Ploso Jombang. Namun saya tidak bersedia karena menurut saya banyak hal yang dipelajari tidak sesuai dengan hati saya. Di antaranya:
1.      Sebelum mengikuti ajaran di pondok pesantren tersebut harus mengikuti proses baiat
2.      Doa-doa yang diajarkan dicampur aduk dengan bahasa Indonesia (Jawa)
3.      Di rumahnya dipasang jimat (rajah)
4.      Bukunya tidak boleh dipelajari oleh sembarang orang
Pertanyaan saya:
Apakah hukumnya kita memakai jimat (rajah)? Apakah benar ada ajaran Islam yang disembunyikan (hanya diajarkan pada orang-orang tertentu)?
Terima kasih.

Wassalamu alaikum Wr. Wb.

Jawaban:

ADAT KEBIASAAN DI HARI RAYA, PENGOBATAN MEMAKAI KALUNG DAN TENTANG BAI’AT

Pertanyaan Dari:
Miftah A, NBM: 656718
MA Muhammadiyah Sinar Negeri, Kec. Pubian Kab. Lampung Tengah
(disidangkan pada Jum'at, 17 Rajab 1430 H / 10 Juli 2009 M)

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Mewakili seluruh anggota Majlis Ta’lim Ranting Muhammadiyah Sinar Negeri, dengan ini saya mengajukan beberapa pertanyaan:
  1. Di banyak tempat tidak terkecuali di kampung kami, baik warga Muhammadiyah maupun yang bukan, mengisi kegiatan pada Hari Raya ‘Idul Fitri dengan cara berkunjung keluar masuk rumah tetangga, kenalan dan handai tolan untuk meminta dan memberi maaf. Benarkah adat kebiasaan semacam ini? Bagaimana sebaiknya warga Muhammadiyah merayakan Hari Raya ‘Idul Fitri?
  2. Di tempat kami saat ini sedang ramai orang (termasuk banyak warga Muhammadiyah) berusaha memiliki kalung dan gelang yang harganya sekitar Rp 1.500.000,- dengan tujuan untuk mengobati beberapa macam jenis penyakit. Bolehkah pengobatan dengan cara seperti ini?
  3. Dalam forum majlis ta’lim di tempat kami pernah disampaikan oleh salah seorang pengurus PCM. Beliau mengeluhkan salah satu kekurangan Muhammadiyah adalah tidak adanya bai’at bagi orang yang akan menjadi anggota Muhammadiyah, sehingga setelah menjadi anggota tingkat kepatuhannya kepada persyarikatan dan pimpinannnya sangat rendah. Apa memang demikian? Mohon penjelasan tentang arti BAI’AT dan perlu tidaknya BERBAI’AT.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jawaban:
Powered by Blogger.